31 January 2024

Sugesti Dalam Amalan dan Mantra

Sugesti Dalam Amalan dan Mantra

Masing-masing amalan gaib dan mantra mempunyai sifat dan latar belakang sendiri-sendiri, apakah bersifat kebatinan ataukah hanya bersifat kekuatan mantra saja. Dan keampuhannya, selain tergantung pada isi amalannya dan sifat dari mantranya itu, keampuhannya tergantung juga pada karakteristik orang yang mengamalkannya.

Untuk lebih menjamin keampuhannya dalam mengamalkan sebuah amalan gaib kita harus tahu bagaimana sugesti mengamalkannya apakah harus murni menekankan kekuatan mengsugesti mantra / amalan gaib, ataukah harus dengan mengsugesti kebatinan kita (menggerakkan kekuatan kebatinan), ataukah amalan itu harus langsung ditujukan kepada khodam ilmu / pendamping.

Dalam mengamalkan suatu amalan gaib, minimal ada 2 macam pendekatan sugesti dalam melakukannya :

Yang pertama adalah sugesti ilmu gaib dan ilmu khodam.

Dengan model pendekatan ini sugesti ditekankan pada bentuk dan bunyi amalan gaibnya, sehingga kalau amalan gaibnya salah, atau membacanya salah bunyinya, seringkali kegaibannya tidak bekerja, atau sekalipun ilmunya bekerja, biasanya tidak besar kegaibannya, apalagi kalau lupa mantranya.

Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam mendasarkan kekuatan ilmunya pada kemampuan orangnya mengsugesti amalan gaib dan mantra, sehingga membacakan amalan gaibnya tidak boleh salah, dan tidak boleh lupa pada bunyi mantranya (apa yang harus diamalkan kalau lupa mantranya ? ). Orangnya juga harus berkhodam, karena khodamnya itulah yang bekerja dan menentukan ampuh-tidaknya ilmunya.

Karena fokus ilmunya hanya pada kemampuannya mengsugesti mantra / amalan gaib seringkali kegaiban yang terjadi tidak diketahui darimana asalnya, apakah dari batinnya sendiri, dari khodam ilmu / pendamping, ataukah dari mahluk halus lain yang datang. Yang dipentingkan hanya keampuhannya saja. Selama ilmunya itu bekerja, maka ilmunya itu dan khodamnya akan dikatakan ampuh, begitu juga sebaliknya, bila ilmunya tidak bekerja, maka ilmunya itu dan khodamnya akan dikatakan tidak ampuh.

Yang kedua adalah sugesti kebatinan.

Dengan model pendekatan ini sugestinya bersifat "ke dalam", yaitu ditujukan ke dalam batin sendiri, kepada sukmanya sendiri, atau langsung ditujukan kepada sosok-sosok gaib tertentu (khodam) yang menjadi tujuan amalan gaibnya. Dengan cara ini akan terjadi kontak rasa dan kontak batin antara kebatinannya dengan sukmanya atau dengan khodamnya, sehingga walaupun bunyi amalan gaibnya salah atau salah membaca amalannya, selama ia bisa bersugesti batin seperti itu, bisa kontak rasa dan batin, maka kegaibannya akan tetap bekerja, karena batinnya atau khodamnya mengerti maksud dan tujuan sugestinya.

Dengan sugesti kebatinan, walaupun lupa bunyi amalannya, orang tetap bisa menjalankan ilmunya dengan cara mengsugesti batinnya sendiri, atau cukup sambat saja kepada khodam ilmu / pendamping.

(Dengan sugesti kebatinan kita akan tahu sendiri kegaibannya berasal darimana, apakah berasal dari sukma kita sendiri, ataukah dari khodam ilmu / pendamping, khodam keris / jimat, atau dari mahluk halus lain).

Amalan keilmuan yang bersifat kebatinan sebaiknya kita lakukan dengan sugesti kebatinan untuk mengsugesti sukma kita (roh pancer dan sedulur papat). Adanya kembangan-kembangan dalam amalan gaibnya akan memperkaya sugesti kebatinan kita.

Amalan keilmuan yang berbahasa arab dilakukan dengan sugesti ilmu gaib / khodam, tidak boleh salah membacanya, dan tidak boleh lupa bacaan amalannya.

Amalan keilmuan kejawen yang bekerjanya menggunakan khodam, dalam membacakan amalannya sebaiknya ditujukan langsung kepada khodamnya itu (atau kepada benda gaibnya).

Ada amalan-amalan dan mantra yang menyebut nama Allah.

Atas sebuah amalan dan mantra yang sama dan sama-sama menyebut nama Allah, Gusti, Gusti Pangeran, dsb, pada orang-orang yang jalur keilmuannya berbeda mengamalkannya harus dengan sugesti yang juga berbeda.

Pada orang-orang yang menjalani kebatinan ketuhanan amalan-amalan dan mantra yang menyebut nama Allah harus diamalkan dengan menghayati kebatinan ketuhanannya. Kegaiban yang terjadi berasal dari kekuatan sukmanya dan dari kekuatan kebatinan ketuhanannya. Tetapi pada orang-orang lain yang umum amalan dan mantra itu harus diamalkan sama dengan sugesti ilmu gaib, menekankan kekuatannya mengsugesti mantra. Walaupun mantranya menyebut nama Allah, kegaiban yang terjadi berasal dari kekuatannya mengsugesti mantra dan dari khodamnya.

Ada juga amalan-amalan dan mantra yang menyebut nama sedulur papat (kakang kawah, adi ari-ari).

Atas sebuah amalan dan mantra yang sama dan sama-sama menyebut nama sedulur papat, pada orang-orang yang berbeda mengamalkannya harus dengan sugesti yang juga berbeda.

Pada orang-orang yang menjalani laku kebatinan, dan memahami kebatinan jawa, dan sudah memiliki kekuatan sukma yang tinggi, amalan-amalan dan mantra yang menyebut nama sedulur papat harus diamalkan dengan menghayati kebatinannya itu, dibacakan ke dalam dirinya sendiri, kepada batin / sukmanya sendiri. Kegaiban yang terjadi berasal dari kekuatan sukmanya (kesatuan roh pancer dan sedulur papatnya) dan ditambah dari khodamnya, kalau orangnya juga berkhodam. Tetapi pada orang-orang lain yang umum amalan dan mantra itu harus diamalkan sama seperti sugesti ilmu gaib, menekankan kekuatannya mengsugesti mantra. Walaupun mantranya menyebut nama sedulur papat, kegaiban yang terjadi berasal dari khodamnya, bukan dari sedulur papatnya.


sumber: https://sites.google.com/site/thomchrists

Semua pertanyaan terkait artikel ini, bisa menghubungi penulis aslinya diwebsite tersebut.